Suplementasi Mineral Pada Ternak Ruminansia

Saifuddin Zuhri | Sunday, January 20, 2013 | 0 komentar
Mineral merupakan salah satu nutrien yang mempunyai peranan pokok dalam berbagai proses biokimia dalam tubuh seperti metabolisma protei, energi dan karbohidrat (Tilman et al., 1998). Selain dibutuhkan oleh induk semang (ternak), mineral juga dibuthkan mikroba dalam memproduksi enzim-enzim untuk mendegradasi pakan. Mineral yang dibutuhkan ternak dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu mineral makro (Ca, P, Mg, K, Na, Cl, S,) dan mineral mikro (Fe, Cu, Mo, Zn, Co, I, Mn, Cr). Diantara kedua kelopok tersebut mineral makro lebih banyak dibutuhkan dibandingkan dengan mineral mikro (Tilman et al., 1998). Komposisi zat-zat mineral didalam tubuh hewan berkisar antara 3 - 5 % dan yang penting untuk diketahi bahwa mineral tidak dapat dibuat di dalam tubuh hewan, sehingga harus disediakan dalam rnsumbaik dalam hijauan, konsentrat, maupun dalam pakan suplemen (Hatmono dan Hastono, 1997). 

Mineral tersebut harus disediakan dalam perbandingan yang tepat dan dalam jumlah yang cukup. Jika terlalu banyak mineral dapat membahayakan bagi ternak itu sendiri (Anggorodi, 1979). Masing-masing mineral mempunyai peranan penting dalam proses fisiologis dan saling terkait antara mineral satu dengan yang lain. Tetapi, dalam pemberian Harus seimbang agar tidak terjadi defisiensi mineral Ca dan P pada kambing yang menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang dan gigi, kondisi tubuh lemah, pertumbuhan terhambat dan nafsu makan berkurang (Murtidjo, 1993). Akan tetapi dengan pemberian Ca yang berlebihan dapat mengakibatkan defisiensi mineral Mg, Fe, I, Mn, Zn dan Co, sehingga penambahan Ca tidak boleh melebihi kebutuhan ternak. Mineral Na, Cl, K, Ca, P, Mg dan S berperan dalam menjaga keseimbangan asam basa (Tilman et al., 1998) yang nantinya berpengaruh terhadap pH dalam rumen. Dengan pH yang optiomal maka aktivitas mikroba terutama dalam mendegradasi pakan juga optimal. Lebih lanjut dijelaskan Na dan Cl bersifat palatabel sehingga dapat meningkatkan konsumsi pakan. Defisiensi Na dan Cl dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat karena konsumsi pakan menurun yang berarti konsumsi nutriennya terutama protein dan energi tidak terpenuhi.

Mineral yang sangat penting dalam meningkatkan aktivitas mikroba rumen selain mineral tersebut diatas adalah S dan Zn (Arora, 1995). Mineral S berpern penting dalam meningkatkan aktivitas mikroba rumen dan merupakan salah satu unsur penting yang mempengaruhi proses fermentasi dalam rumen. Menurut Parakkasi (1998), sulfur juga diperlukan untuk pembentukan asam amino (methionin, sistin, sistein) dan beberapa vitamin (tiamin, biotin, dan polisakarida) yang mengandung sulfat yang berperan dalam pembentukan tulang ranwan, tendo dan pembuluh darah. Selain itu sulfur juga berfungsi dalam proses metabolisme protein, lemak dan karbohidrat, pembentukan tulang, darah, endokrin dan keseimbangan asam basa cairan intraselular atau eksraselular.

Mikroba rumen dapat menggunakan S organik dan anorganik untuk sintesis asam-asam aminomengandung S pada pembentukan protein mikroba (Arora, 1995). Penggynaan S oleh ternak ruminansia berrhubungan dengan penggunaan Mo dan Cu (Manika et al., 1993). Mo pada kadar 76 mg/kg dalam pakan secara efektif mencegah pembentukan sulfida. Cu yang bersifat sinergis terhadap pengaruh Mo dan mengahambat adenosin 3-Phosphosulfat reduktase dalam pembebasam sulfit sehingga reduksi sulfat anorganik terhambat (Arora, 1995). Sulfida digunakan mikroba untuk sintesis protein tubuhnya. Kepentingan S untuk metabolisme tersebut terletak pada struktur kimia S yang mudah berubah dalam reaksi oksidasi - reduksi (Tilman et al., 1998). Sulfur dalam pembentukan sulfat (So4-2) yang terdapat dalam amonium sulfat aka diubah menjadi sulfida (S-2) dalam rumen oleh bakteri sehingga ternak ruminansia dapat menggunakan S secara efektif untuk sintesis asam amino (Kincaid, 1988). Sumber sulfur yang berbeda memiliki kecernaan yaang berbeda pula (Arora, 1989). Sulfur yang berasal dari elemen sulfur, natrium sulfat, serta L-metionon berturut-turut mempunyai daya cerna sebesar 36, 70, dan 78 % serta masing-masing mempunyai retensi 27, 56, dan 70 % (Johnson et al., 1971). Berbagai bentuk garam sulfat seperti amoniu sulfat, natrium sulfat, dan kalsium sulfat serta metionin merupakan sumber sulfur yang baik karena mempunyai efisiensi pemanfaatan  yang baik dari pada sulfur elemental (Mc Donald et al., 1995). Arora (1995) melaporkan bahwa garam-garam amonium dapat menggantikan protein pakan sampai 50 %. Hasil penelitia Erwanto (1995) didapatkan bahwa suplemen S organik dalam bentuk amonium sulfat dapat memperbaiki kecernaan ransum (BK, PK, detergen asam) serta dapat meningkatkan populasi mikroba rumen dan fermentsi didalam rumen, sehingga berpengaruh positif tehadap pertambahan berat badan sapi sebesar 15 % lebih tinggi dibandingkan tanpa suplementsasi amonium sulfat. Defisiensi S dapat menurunkan populasi mikroba rumen. Penurunan populasi mikroba rumen menyebabkan aktifitas mikroba rumen dalam mendegradasi fraksi serat dalam rumen menurun sehingga menurunkan kecernaan bahan kering baik secara in vivo maupun in vitro (Arora, 1995). Defisiensi S juga menyebabkan mundurnya pertumbuhan, efisiensi pakan rendah dan pertumbuhan bulu lambat (Anggorodi, 1984). Kebutuhan S untuk ternak ruminansia belum jelas diperkirakan antara 0,10 - 0,32 % (Parakkasi, 1998). Sedangkan menurut Kincaid (1988) kebutuhan S untuk ternak domba antara 0,18 - 0,26 %. Perbandinga kebutuhan N : S untuk domba adalah (10 - 13,5) : 1 % (Arora, 1995).

Suplementasi Zn dapat mengaktifkan beberapa enzim diantaranya adalah karbonat anhidrase, karboksi peptidase, laktat dehidrogenase, alkohol dehidrogenase, alkali fosfatase, thymidhine kinase dan hormon serta bertanggung jawab terhadap sintesis asam nukleat (RNA dan DNA) melalui pengaktifan enzim RNA polimerase dan DNA polimerase, sintesa protein dan metaboleisme karbohidrat, serta terlibat di dalam sistem kekebalan tubuh dan keseimbangan elektrolit (Mc Donald et al., 1995). Putra (1999) menyatakan bahwa suplementasi 50 mg/kg Zn asetat dapat meningkatkan aktifitas mikroba dalam rumen, sintesis protein mikroba, kecernaan pakan dan pertambahan berat badan sapi. Lebih lanjut putra menjelaskan bahwa suplementasi Zn tersebut dapat meningkatkan populasi bakteri rumen (12,8 vs 4,95 x 108 kol/ml) yang secara simultan meningkatkan produksi asam propionat (34,2 vs 26,9 mM) dibandingkan denga tanpa suplementasi Zn. Hasil penelitian Hermawan (2001) didapatkan bahwa suplementasi Zn asetat dapat meningkatkan Zn plasma domba (0,33 vs 0,25 mg/dl); jumlah sel darah merah (13 vs 11 x 106 /l), serta pertambahan berat badan sebanyak (51,78 vs 25,00 g/ekor/hari) dibandingkan tanpa suplementasi Zn asetat.

Rasyaf (1992) menyatakan bahwa defisiensi Zn dapat menyebabkan pertunbuhan lambat, tulang rapuh, bulu kusam, pernafasan tidak normal dan keratosis pada kulit. Parakkasi (1998) menambahkan bahwa defisiensi Zn juga dapat menurunkan penampilan, pembengkakan pada kaki, dermatitis terutama pada leher, kepala dan kaki, serta terjadi gangguan penglihatan, penurunan fungsi rumen dan sukar dalam penyembuhan luka. Lebih lanjut dijelaskan bahwa defisiensi Zn dapat dipehebat oleh adanya Ca dan P yang tinggi karena Ca dan P bersifat antagonik tehadap Zn (Tilman et al., 1998).

Category:

About Biotakson:
Biotakson diambil dari kata biotaksonomi, yang artinya tingkatan-tingkatan dalam biologi, nama ini disesuaikan dengan kontent blog ini yang mengulas hal-hal yang berhubungan dengan biologi ditambah dengan komputer

0 komentar